Kamis, 04 November 2010

PRAY for Indonesia

Belum Indonesia pulih dari kekagetan akibat bencana Air Bah yang terjadi di WAsior Papua Barat awal Oktober lalu. Yang jelas-jelas bukan akibat dari alam, namun perbuatan egois manusia yang menghancurkan Hutan dengan menebang pohon-pohon. Wasior berduka dengan kejadian itu, namun Indonesia bersedih dengan hal tersebut. Manusia memang makhluk yang egois dan tak pernah puas. Alam hanya-lah saksi bisu sebelum TUHAN benar-benar berang akibat ulah manusia. Alam menjawab kita akan kesedihannya setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dihancurkan oleh manusia. WHAT SHOULD WE DO ??? as a human i ask that to my ownself.


Senin, 25 Oktober 2010, Ibu Kota Negara Republik Indonesia diterpa bencana Banjir dimana-mana. Jalanan Ibu Kota lumpuh total akibat kemacetan yang terjadi hampir di seluruh jalan protokol. Seperti Sudirman, Kuningan , Gatot Subroto, Senopati, Mampang, dan masih banyak lagi. Hal tersebut terjadi di karenakan hujan yang mengguyur kota Jakarta sejak siang harinya, membuat beberapa titik di Ibukota Banjir. Hal tersebut membuat warga kota Jakarta menjadi berang dengan keadaan kota Megapolitan ini. Banyak warga yang baru sampai rumah hingga larut malam, bahkan sudah masuk hari berikutnya ”like my mom, she’s already at home at 00.23.” Dan memang dasar orang-orang entah alas an kecapean atau rumah kebanjiran bahkan macetnya Jakarta pun bisa dijadikan alas an untuk pada esok harinya telat dating ke kantor bahkan sampai tidak masuk kantor.


And pada esok Harinya, Indonesia kembali tertimpa musibah. Pada sore hari waktu Indonesia bagian Barat bencana kembali menimpa daerah Sumatera, tepatnya Pulau Mentawai, Sumatera Barat. Sore itu, Pulau mentawai tertimpa musibah Tsunami. Seperti yang telah di umumkan oleh BMKG bahwa daerah Menatawai akan terjadi bencana Tsunami. Namun, tetap saja banyak korban jiwa akibat bencana itu. Belum lagi mereka pulih dari trauma akibat gempa yang terjadi tahun lalu, sekarang mereka harus kembali mengalami musibah yang sangat dahsyat. Ratusan nyawa melayang, ratusan orang hilang dan masih belum diketahui keberadaanya, rumah mereka porak poranda di hantam ombak setinggi +- 3 meter, dan ribuang nyawa kehilangan segalanya. hilangnya barang berharga dapat diganti namun hilangnya nyawa semakin membuat hati mereka terpuruk, anak-anak kehilangan sekolah mereka untuk belajar, kehilangan senyum dan tawa mereka akibat bencana, para orang dewasa kehilangan semangat mereka untuk pulih, kehilangan harta benda yang mereka kumpulkan dari jerih payah mereka sejak gempa dahulu, dan sekarang kesedihan kembali menerpa mereka.


Belum hilang syok Indonesia dengan kejadian Air yang melipah di dua tempat kurang dari satu hari. Indonesia kembali berduka dengan Meletusnya gunung MERAPI, Malam harinya. Gunung Merapi yang terletak di Daerah Istimewa Jogjakarta itu merupakan salah satu gunung berapi teraktiv di Dunia. Gunung yang pernah meluncurkan Awan Panas atau yang lebih dikenal oleh warga sekitar dengan Wedus Gembel pada 2006 silam. Malam itu kembali meletus dan mengakibatkan dua dusun, Desa Umbul Harjo dan Desa xxx Harjo"dont know the real name of the place, gunung merapi penuh dengan debu vulkanik, dan menghilangkan puluhan nyawa, ratusan warga luka bakar, dan ribuan orang kehilangan harta benda dan ternak mereka. Dan meninggalnya satu nyawa orang yang sangat mengabdi dan menganggap gunung tersebut sebagai sahabatnya. Mbah Maridjan, pria yang terkenal sejak menolak untuk diungsikan baik oleh RI 1 dan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Itu menutup usia pada bencana itu, Wedus Gembel menutup perjalanannya sebagai seorang Juru Kunci Gunung Merapi atau seseorang yang dipercaya oleh Keraton Jogjakarta,” Kerajaan yang masih bertahan hingga saat ini di Indonesia” Untuk menjaga Gunung yang sangat diagungkan di Jogjakarta itu. Mbah Maridjhan benar-benar seorang abdi yang mengabdi pada apa yang sudah menjadi tugas-nya. Menjaga Gunung Merapi. Ia, tidak takut pada Apapun kecuali Gusti Allah, dan seperti ucapannya sewaktu tahun 2006, ia hanya akan menurut jika diperintah oleh Keraton dan Rajanya ” Mbah Maridjhan dinobatkan menjadi seorang juru kunci Merapi oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX” dan ia tidak pernah merasa bahwa Gunung yang telah ia jaga sejak tahun 1982 itu sebagai pembawa bencana karena bagi ia Merapi merupakan sahabat yang tertidur dan saat ini sedang terbangun.

Dan sekarang 22 gunung berapi di Indonesia sedang dalam status waspada...belum lagi bantuan bagi warga mentawai yang belum kunjung tiba secara adil dan merata karena daerah yang sulit untuk dijangkau.


Jangan menangis Indonesia ku…kita pasti bisa melewati ini lagi.
Seperti dahulu kita kembali tegar setelah bencana Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam, dan berbagai bencana lainnya.
Kita sedang diuji, bagaimana kita bisa kembali bersatu untuk membangun Negeri kita tercinta ini.
Membangun kembali apa yang telah dihancurkan baik yang diakibatkan oleh manusia
atau TUHAN yang menakdirkan.
Kita sedang diuji untuk kembali pada satu-satunya pegangan kita, yaitu TUHAN.
Jangan bersedih Indonesia ku...
Kita bisa kehilangan harta benda kita, kampung halaman kita, bahkan nyawa seseorang yang kita cintai.
Namun kita tidak akan kehilang kepercayaan kita pada TUHAN dan jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia.
Kita tangguh...kita Mampu...dan Kita BISA
Kita tangguh dalam menghadapi semua yang terjadi di negara ini, baik perpecahan dan bencana.
Kita mampu membangun kembali negara ini dengan diri kita, dengan jiwa raga Indonesia, dengan persatuan diatas segala perbedaan.
Dan Kita Bisa, bisa melewati semuanya dengan uluran tangan dan senyuman untuk saudara-saudara kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar